Jumat, 27 Februari 2026

Perkembangan Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Buntok


20 Juni 2025 Panitia Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Buntok mengajukan Pencairan Dana Hibah APBD Murni Tahun 2025 sebesar Rp. 50.000.000,- kepada Bupato Barito Selatan Up Kabag Kesra Sekretariat Daerah Kabupaten Barito Selatan.
.
Pada tanggal 11 Agustus 2025 ditransfer Pelunasan Harga Kubah Masjid kepada PT Mustaka Multi Tehnik di Pati Jawa Tengah sebesar Rp 70.000.000,-
.

Tanggal 23 September 2025 kita Melaporkan penggunaan dana hibah kepada Bupati up Kabag Kesra bahwa uang sudah lunas termanfaatkan dan kubah masjid sudah terpasang. 


24 Desember 2025 Panitia Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Buntok menerima Pencairan Dana Hibah APBD Perubahan Tahun 2025 sebesar Rp. 75.000.000,- dan langsung dimanfaatkan untuk Pemasangan Kusen Pintu Geser, Pemasangan Pintu Geser, Kaca Masjid dan Kaca tanam Kubah Masjid.


Bulan Januari 2025 diupayakan pemasangan keramik lantai masjid sesuai kemampuan pendanaan yang ada. 

Kamis, 26 Februari 2026

Kapan Berhenti Makan Sahur?

 Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

 

Wajib berhenti makan dan minum ketika terbit fajar Shubuh sebagaimana ditegaskan dalam ayat,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

 

Yang aman, sudah berhenti makan sahur ketika azan Shubuh walau adzannya dari hasil hisab

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhohullah mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa kebanyakan muadzin saat ini berpegang pada jadwal-jadwal shalat yang ada, tanpa melihat terbitnya fajar secara langsung. Jika demikian, maka ini tidaklah dianggap sebagai terbit fajar yang yakin. Jika makan saat dikumandangkan adzan semacam itu, puasanya tetap sah. Karena ketika itu terbit fajar masih sangkaan (bukan yakin). Namun, lebih hati-hatinya sudah berhenti makan ketika itu.” (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 66202)

 

[1] Dalam Al Majmu’, Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Kami katakan bahwa jika fajar terbit sedangkan makanan masih ada di mulut, maka hendaklah dimuntahkan dan ia boleh teruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya. Permasalah ini sama sekali tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama.”

 

[2] Adapun hadits:

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan sendok terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan sendok tersebut hingga dia menunaikan hajatnya hingga selesai.” (HR. Abu Daud no. 2350. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan shahih)

 

Yang dimaksud azan di sini adalah azannya Bilal yaitu azan sebelum masuk Shubuh. Dalam hadits disebutkan:

إِنَّ بِلالا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

“Sungguh Bilal mengumandangkan azan di malam hari. Tetaplah kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.” (HR. Bukhari dan Muslim. Dalam kitab Shahih terdapat beberapa hadits lainnya yang semakna)



Sumber 
https://rumaysho.com/33119-kapan-waktu-yang-tepat-berhenti-makan-sahur-saat-imsak-atau-azan-shubuh.html

 

 

 

 

 

Rabu, 07 Agustus 2024

PENGUKURAN TANAH MASJID BAITUL MUTTAQIN BUNTOK

Rabu siang tanggal 2 Safar 1446 / 7 Agustus 2024 antara pukul 13.45 - 14.45 WIB dilaksanakan proses sertifikasi tanah wakaf berupa pengukuran luasan tanah Masjid Baitul Muttaqin Buntok oleh Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Barito Selatan. Dalam proses ini didampingi pula oleh Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan dan Badan Wakaf Indonesia Kabupaten Barito Selatan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Arbaja, hadir langsung ke lokasi pengukuran bersama dengan Kepala Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Barito Selatan, Mu'min, dan juga disaksikan oleh Pimpinan Badan Wakaf Indonesia Kabupaten Barito Selatan, Sibawaihi.


Tuan rumah yang menerima para tamu adalah Nazir, Rismato dan M Romli, tukang Nanang, disaksikan oleh Sekretaris Panitia Pembangunan Masjid Syamsuddin Rudiannoor.


Selesai pengukuran dan proses administrasi di lapangan lengkap selanjutnya rombongan yang terdiri 4 (empat) mobil melanjutkan pengukuran di Masjid An Nur Buntok.

Alhamdulillah proses berjalan lancar.

Senin, 05 Agustus 2024

PERSIAPAN SERTIFIKASI TANAH MASJID


Ahad pagi tanggal 29 Muharram 1446 / 4 Agustus 2024 diadakan persiapan kecil menjelang proses pengurusan sertifikat tanah wakaf dengan membersihkan patok batas tanah dan jalur pengukuran. 


Hadir Wakif, Bapak Supiatno dan istri, Kepala Tukang, Zainal, Nazir H Rismato, Nanang (tukang) dan Syamsuddin Rudiannoor. 





Sekitar pukul 10.25 WIB kita bertiga H Rismato dan Staf Kementrian Agama Kabupaten Barito Selatan melakukan simulasi pengukuran watas tanah sebelum nantinya diukur oleh Fihak Badan Pertanahan Kabupaten Barito Selatan.


Alhamdulillah proses persiapan berjalan lancar.

Selasa, 23 April 2024

Wanita MInta Izin Pergi Ke Masjid

 

عَنْ سَالِمِ بْـنِ عَبْدِ اللهِ  عَنْ اَبِيْهِ عَنْ النَّبِيِّ ص اِذَا اسْتَأْذَنــَتِ امْرَأَةُ  اَحَدِكُمْ فَلاَ يَمْنَعْهَا. البخارى.
Dari Salim bin Abdullah dari ayahnya dari Nabi SAW, beliu bersabda : "Apabila isteri salah seorang diantara kalian  minta idzin (untuk pergi ke masjid), janganlah ia mencegahnya". [HR. Bukhari]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص  قَالَ: اِذَا اسْتَأْذَنــَكُمْ  نـِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ اِلَى اْلمَسْجِدِ فَأْذَنــُوْا لَـهُنُّ.
Dari Ibnu Umar RA. dari Nabi SAW, beliau bersabda : "Apabila isteri-isterimu minta idzin ke masjid di malam hari maka berilah idzin mereka itu".
عَنْ هِنْدٌ بِنْتِ اْلحَارِثِ اَنَّ اُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ  النَّبِيِّ ص اَخْبَرَتْهَا اَنَّ النِّسَاءَ فِى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص كُنَّ اِذَا اَسْلَمْنَ مِنَ اْلمَكْـتُوْبـَةِ قُمْنَ وَثَبَ رَسُوْلُ اللهِ ص. وَمَنْ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَآءَ اللهُ فَاِذَا قَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَامَ الرِّجَالُ.
Dari Hindun binti Harits bahwasanya Ummu Salamah istri Nabi SAW memberitahukan kepadanya, bahwasanya wanita-wanita di masa Rasulullah SAW setelah mereka selesai shalat, mereka segera pulang. Sedangkan Rasulullah SAW masih tinggal bersama kaum laki-laki. Setelah Rasulullah SAW berdiri, barulah orang laki-laki itu berdiri pula".
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اِنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص لَيُصَلِّى الصُّبْحَ فَيَنْصَرِفُ النِّسَاءُ مُتَـلَـفِّعَاتٍ بِمُرُوْطِهِـنَّ مَا يُعْرَفْنَ مِنَ اْلغَـلَسِ.
Dari Aisyah RA, ia berkata : Setelah Rasulullah SAW menyelesaikan shalat Shubuh, wanita-wanita sama pulang dengan mengenakan kerudung-kerudung mereka, dan mereka tidak dikenal karena dari gelapnya". [HR. Bukhari]
عَنْ عَـبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَـتَادَةَ  اْلاَنــْصَارِيِّ عَنْ اَبــِيْهِ  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِنِّى لاَقُوْلُ اِلَى الصَّلاَةِ وَاَنـَا اُرِيْدُ اَنْ اُطَوِّلُ فِيْهَا فَاَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَاَتـَجَوَّزُ فِى صَلاَتِىْ كَرَاهِيَةَ اَنْ اَشُقَّ عَلَى اُمِّهِ.
Dari Abdullah bin Abu Qatadah Al-Anshari dari ayahnya, ia  berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Aku berdiri hendak shalat. Aku bermaksud hendak membaca surat yang panjang-panjang dalam shalat itu. Tetapi tiba-tiba kudengar tangis anak-anak. Maka kusingkatkan saja bacaan ayat dalam shalat itu, karena aku tidak suka menyusahkan ibu si anak itu".
Wajib Menutup Aurat Dalam Shalat
a. Bagi Pria :
عَنْ اَبِى هُرَيــْرَةَ قَالَ: اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يـُصَلِّـيَنَّ اَحَدُكُمْ فِى الـثـَّوْبِ اْلوَاحِدِ لـَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ. البخارى و مسـلم ولكن قال عَلَى عَاتِقَيْهِ. ولاحمد اللفظان.
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda : "Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kamu shalat dengan memakai satu kain, yang diatas pundaknya tidak ada sesuatu" [HR. Bukhari Muslim dan Ahmad. Tetapi Muslim mengatakan dengan "diatas kedua pundaknya". Sedang bagi Ahmad menggunakan kedua lafadl tersebut].
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا صَلَّيْتَ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ فَإِنْ كَانَ وَاسِعًا فَاْلـتَحِفْ بِهِ وَ اِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّـزِرْ بِهِ متفق عليه و احمد. و اللفظ لاحمد.
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW pernah bersabda : "Apabila kamu shalat dengan memakai satu kain, jika kain itu luas hendaklah engkau selempangkan dia, tetapi jika kain itu sempit hendaklah engkau berkain dengannya". [HR. Ahmad Bukhari Muslim. Dan lafadl itu bagi Ahmad]
b. Bagi Wanita :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يـَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ اِلاَّ بِخِمَارٍ. الخمسة الا النسائى.
Dari Aisyah, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW pernah bersabda : "Allah tidak menerima shalatnya seorang wanita yang sudah baligh, kecuali dengan memakai kerudung". [HR. Khamsah, kecuali Nasai].
عَنْ اُمِّ سَلاَمَةَ اَنــَّهَا سَأَلـَتِ النَّبِيَّ ص: اَتُصَلِّى اْلمَرْأَةُ فِى دِرْعٍ وَخِمَارٍ وَلَـيْسَ عَلَيْهَا اِزَارٌ؟ قَالَ: اِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًايـُغَطِّى ظُهُوْرَ قَدَمَيْهَا. ابو داود.
Dari Ummi Salamah : Sesungguhnya ia pernah bertanya kepada Nabi SAW : "Bolehkah seorang wanita shalat dengan memakai blues dan kerudung tanpa memakai kain bawah ?". Jawab Nabi SAW : "(Boleh saja), apabila blues-nya itu panjang sehingga menutup luar kedua tapak kakinya". [HR. Abu Dawud].
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ جَرَّثَوْ بَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ اِلَـيْهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَقَالَتْ اُمُّ سَلَمَةَ. فَكَـيْفَ تَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيـُوْلـِهِـنَّ؟ قَالَ: يُرْخِيْنَ شِبْرًا قَالَتْ: اِذَنْ تـَنْكَشِفَ اَقْدَامُهُنَّ. قَالَ: فَيُرْحِيْنَهُ ذِرَاعًا. لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ. النسائى و الترمذى وصححه.

Dari Ibnu Umar ia berkata Rasulullah SAW pernah bersabda : "Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari qiyamat". 'Lalu Ummu Salamah bertanya : "Lalu bagaimana para wanita itu harus berbuat terhadap ujung pakaiannya ?" Jawab Nabi SAW : "Turunkanlah sejengkal". Ummu Salamah berkata : "Jika demikian masih terbuka kaki-kaki mereka". Nabi SAW menjawab : "Hendaklah mereka menurunkannya sehasta, jangan melebihkan dari itu". [HR. Nasai dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi mengesahkannya].

Perkembangan Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Buntok

20 Juni 2025 Panitia Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Buntok mengajukan Pencairan Dana Hibah  APBD Murni Tahun 2025 sebesar Rp. 50.000.00...